Pengunjung

Minggu, 21 Agustus 2016

Tasseography, Ramalan Secangkir Kopi

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

                                                           Tasseography, Ramalan Secangkir Kopi


            Apakah kamu percaya?, bahwa secangkir kopi dapat merasakan masa depan seorang anak manusia. Secangkir kopi yang diseruput dengan kedalaman rasa dapat meramalkan masa depan seseorang. Masa depan itu terbaca dari gambaran ampas kopi yang tersisa di dasar cawan, yang diseduh oleh sang penikmat kopi. Itulah tasseography, ramalan dari secangkir kopi. Pantaskah ramalan dari secangkir kopi itu dipercaya? , atau hanya bualan belaka, andaikan masa depan yang tergambarkan dari ampas kopi tersebut benar adanya, maka menurutku itu hanyalah kebetulan belaka. Sebagaimana kebetulan-kebetulan yang terjadi dalam hidup sehari-hari seseorang.
            Kebetulan pagi ini aku berkenalan dengan seorang perempuan manis yang diperkenalkan oleh seorang teman sebagai pencombalangan yang terakhir untukku. Dia lelah, atau bisa jadi kuota perempuan yang dia kenal untuk dikenalkan kepadaku sudah habis, lantaran asmaraku selalu berakhir dengan kesendirian, seperti kopi. Seperti akhir setetes kopi di ujung lidahnmu, tergantung panas dan pengadukan, semakin tinggi kedua faktor itu maka semakin sempurnalah gula larut dalam cairan hitamnya. Namun kalau saja keduanya kurang sempurna maka kopi terakhir yang engkau seruput pasti terasa pahit.  Begitu juga cinta, ia dapat berakhir dengan rasa pahit atau manis, tergantung bagaimana panas atau dingin suasana dan bagaimana cara engkau mengaduknya. Asmaraku tidak berakhir dengan rasa pahit atau manis, bahkan tanpa rasa, karena aku belum pernah mengikatkan diri pada satu hubungan yang lebih serius dari pada suatu perkenalan. Dan perempuan manis yang dikenalkan padaku pagi ini, aku harap adalah perempuan terakhir yang akan menjadi cinta pertama.
            Bukankah suatu kebetulan kalau saja orang banyak mengatakan bahwa yang pertama adalah yang terindah? . aku setuju, karena seorang yang mengatakan yang pertama adalah yang terindah tidak lagi mempunyai perbandingan tentang keindahan dan keburukan itu sebelumnya. Sehingga secara otomatis yang pertama selalu menjadi yang terindah tanpa ada suatu pembanding. Sesuatu yang didapatkan dari yang pertama selalu terkesan dan sulit terlupakan. Tidak seperti yang terakhir, bukan kebetulan tetapi pasti, yang terakhir akan selalu menjadi yang terbaik. Apapun yang dimiliki oleh yang terakhir pasti akan diterima oleh sang pencari keindahan karena sang pencari keindahan tidak lagi memiliki pilihan lain setelahnya. Tentu, dari pada mencari apa yang tidak ada, dari pada tidak mendapatkan apa-apa maka yang terakhir selalu menjadi pilihan yang terpilih.
Yang ditengah-tengah kamu tahu itu apa?
Yang berada diantara yang pertama dan terakhir akan menjadi sebuah kenangan.
Kebetulan siang ini, emakku, perempuan tua di usia senja, bertanya kapan akau akan menikah. Sedangkan aku tidak punya pilihan lain lagi. Aku seperti sehelai daun yang hanyut di sungai yang semakin menderas menuju air terjun. Aku tidak punya waktu untuk mengambil keputusan. Akhirnya aku pilih jawaban terakhir sebagai ucapan yang terbaik.
“Pertengahan tahun ini aku akan menikah, tapi….”
“Tapi sebelumnya aku ingin ke Banda dulu,” Lanjutku.
“Banda Aceh ?” Tanya emakku heran.
“Tidak boleh !” Lanjutnya
“Bagaimanapun tidak boleh. “
“Emak !!” Aku terperangah.
“Hanya sebentar,  aku pasti pulang Mak. “
“Jangan kembali kesana, hidup terus maju seperti waktu yang tak pernah kembali. “ Nasihat ibu yang kupanggil emak.
“Ke Banda hanya untuk mengembalikan  kenangan, meninggalkannya untuk selama- lamanya Mak….” Pintaku memohon.
“….” Aku terdiam. Emak tidak merestuiku untuk kembali ke Banda biarpun sekejap. Sekedar meninggalkan semua kenangan ke tempat dimana ia berasal dahulu. Kenangan yang selalu hidup, tak pernah mati. Aku tidak ingin kenangan-kernangan dimasa lalu itu masih tersangkut dalam kehidupan baru rumah tangga. Aku ingin kehidupan pernikahan itu dimulai oleh sesuatu  yang baru. Hidup yang benar-benar baru. Setidaknya biarkan aku ke Banda lagi, menutup kenangan yang terus ada.
Selama ini, aku berdiam diri dalam suatu kesendirian karena masih berharap dapat kembali kepada kenanganku. Kembali ke Banda Aceh memulai kehidupan baru dengan penghidupan yang lebih baik. Aku tidak mau  meneruskan sisa kehidupan di Pekanbaru bila masih dibayang-banyangi kenangan masa lalu. Aku masih berharap kembali ke Banda Aceh,  ke tempat dimana kenangan itu berasal. Oleh karena itu aku masih sendiri, ragu untuk melanjutkan kehidupan bersama perempuan baru di sini, karena masih berharap untuk dapat kembali pada  kenangan.
Hidupku dimulai dari hamparan puing-puing kehancuran sejauh mata memandang, dibatasi garis pantai dan dipagari kaki-kaki gunung dari kejauahan, Banda Aceh yang bangkit dari kehancuran, disanalah segala sesuatunya berasal. Aku rindu setiap saat, bukan hanya suasana dan suara yang masih jelas tergambar di dalam lensa mataku, tetapi juga aroma udara yang bercampur garam dari laut masih jelas aku rasakan ketika aku memejamkan mata. Siluet-siluet kenangan itu muncul, mungkin emak mampu melupakan semuanya, tapi aku tidak. Maka, aku harus mengembalikannya, meninggalkannya.
Waktu memang mengubah apa yang ada, tapi tidak mampu mengubah perasaan, karena sejatinya perasaan tidak dapat diubah oleh waktu. Sehingga tidak ada jalan lain selain meninggalkan kenangan ke tempat dimana ia berasal, Banda Aceh. Kota dimana disana tertinggal satu kata yang terbaca ‘ayah’, berjuta kedai yang menjadi tempat terbaik kopi tersaji. Warung kopi  menjadi  tempat  bercengkrama  para lelaki, membangun tradisi semangat kebersamaan dan keakraban. Warung-warung kopi yang dahulu sempat lantak oleh ombak tsunami, kini telah kembali tegak bahkan lebih banyak. Waktu tidak mampu mengikis tradisi.


Semuanya tidak seperti dahulu lagi, telah banyak yang berubah dari Banda Aceh. Begitu kabar terakhir yang aku dengar, memang setelah aku dan emak pergi sepuluh tahun lalu kami tidak pernah kembali lagi, sekalipun. Alasan emak tidak mau kembali, mungkin karena takut pada kenangannya sendiri. Kenangan pada ayah satu lelaki yang ada di hatinya yang telah hilang dalam lautan hindia. Emak tidak mampu menerima kenyataan bahwa ayah telah hilang, dan lebih memilih untuk menghilangkan semua kenangan itu dari pada menerima kenyataan.
Hidupku dibangun dari puing-puing tsunami. Dan kepada bongkahan-bongkahan itu aku berharap untuk menyusunnya kembali menjadi sebuah mahligai yang dahulu telah terserak oleh sepakan ombak. Aku berpacu dengan waktu. Waktu yang senantiasa menghabiskan apa yang ada tidak mampu aku lawan. Bongkahan-bongkahan sebagai tenpat aku menggantungkan asa untuk mengembalikan masa lalu kini telah hilang. Baru aku sadari, terlambat, dari kabar terakhir yang aku dengar: padang hamparan puing-puing tsunami sudah tidak ada lagi, telah berganti dengan bangunan-bangunan baru. Dan pohon-pohon yang dahulu tercabut kini telah julang meninggi. Pucuk-pucuk cemara pantai kini sudah berkibar- kibar ditiup angin laut. Semuanya telah berubah oleh waktu. Aku tak punya pilihan lain selain terus maju dan memulai hidup baru dengan sebuah pernikahan.
Aku tak punya pilihan lain selain pergi tanpa restu. Aku memasuki kamar emakku. Aku genggam tangannya dan aku cium sebagai salam berpamitan. Diatas dadanya, aku letakkan selembar kertas. Bertulaskan ‘emak aku segera kembali’. Kemudian aku tutup pintu kamarnya perlahan. Emak masih tertidur pulas. Emak maaafkan aku.
Kebetulan malam ini, aku mendapatkan keberangkatan ke Bandara Sultan Iskandar Muda. Di terminal kedatangan aku berjalan menuju satu outlet minuman yang masih tersedia. Aku memesan kopi, secangkir Arabica dari tanah gayo dengan racikan Ulee Kareung untuk di sajikan di sudut meja yang aku pilih. Aku termenung dalam kesepian. Saat kopi itu datang seorang perempuan menyapaku di penghujung malam. Siapakah dia ?
“Salam..”
“Waalaikumsalam adik”
“Telah lama aku melihat abang termenung ?” Ia membuka percakapan, sembari merapikan lilitan jilbab merah jambu di lehernya.
“Tidak ada kehidupan yang tampa masalah bukan ?”
“Masalah jangan sampai menggalaukan hati?”
“Ya begitulah …” aku tersenyum.
“Abang pernah dengar, kalau  secangkir kopi yang ada di depan kita ini dapat menjawab kegalauan hati, tasseography, ramalan secangkir kopi”
“Oh ya ?”
“Abang mau coba ?”
“Mengapa tidak “ Lanjutku. Ia mengambil cangkir kopi pesananku. Mengangkatnya sejajar dengan matanya. Kemudian cangkir itu digoyang-goyangkan lembut dan pelan. Lalu diletakkannya kembali ke atas meja.
“Minumlah abang”
Aku tersenyum, “ Ini aman ?“ candaku.
Ia tertawa manis. Aku meminum kopiku sampai cairan hitam itu habis. Dan meletakkan kembali ke atas meja. Perempuan itu menoleh pada sisa ampas kopi di dasar cangkir. Aku juga melihatya. Ajaib. Ampas itu bergerak membentuk pola. Dua lingkaran yang lambat laun makin jelas. Dua lingkaran yang saling berkaitan.
“Gambar apa ini ?” Tanya perempuan itu.
“Sepasang  cincin” jawabku dalam dan serius.
“Menurut abang apa artinya?”
“Bisa jadi sebuah pertunangan”
“Bisa jadi abang akan menemukan jodoh abang disini. Banda Aceh.” Jelasnya. Kemudian ia berjalan pergi, terburu-buru.
“Siapa nama adik ?”
“Mala…”
                                                                           *** 
            Syiah kuala adala negeri angin, sejauh mata memandang hanya hamparan puing-puing tsunami. Bongkahan-bongkahan beton dan tambak-tambak kosong pada hamparan yang luas. Hamparan yang membuat angin senantiasa bergerak bebas, memenderu. Hiruk tapi mendamaikan jiwa. Angin dari laut itu bagaikan salam dari sang surya yang menenggelamkan dirinya ke samudra. Sebelum surya hilang dan berganti rembulan lautan menjelma menjadi hamparan keemasan berselimut cakrawala jingga. Begitu  indah Sang Pencipta melukis dunia setiap senja sebelum maghrib datang, aku selalu menyaksikan itu, dahulu disini, di Syiah Kuala, dimana kenanganku dilahirkan.
Jalanan menuju Syah Kuala kecil dan diaspal, di kiri dan kanannya masih kosong, angin bergerak bebas. Di tepian jalan banyak orang yang merebahkan diri di bawah pokok- pokok jemplang. Istirahat dari semua kesibukan dunia. Di pinggiran pantai anak- anak kampung banyak bermain bola dengan bahagianya. Suasana  dalam senja dan pagi di Syiah Kuala yang akan aku lupakan kini semuanya telah berganti oleh waktu.
Kini angin tidak sebebas dulu, telah terhalang rumah-rumah dan bangunan yang semakin padat. Pandangan mata tidak selapang dahulu, sudah terhalang oleh perumahan sederhana yang susunannya tidak beraturan. Suara angin yang medamaikan jiwa telah bercampur dengan hiruk pikuk manusia.  Pohon-pohon yang dahulu tercabut tsunami kini telah berganti cemara laut yang telah menjulang tinggi. Angin senantiasa mengipas pucuk-pucuknya, bagaikan kibaran bendera  sepanjang waktu. Matahari yang mengenggelamkan diri tidak tampak lagi dari kejauhan kecuali kalau berjalan ke tepian pantai.
Ketika kaki menjejaki pasir di pantai Syiah Kuala, aku memejamkan mata. Butiran bening itu membasahi pipi. Aku ucapkan selamat tinggal untuk kenangan. Selamat tinggal masa lalu. Selamat tinggal ayah. Senantiasa doa terucap dari jiwa untuk kita yang akan kembali pada keabadian. Aku bangkit dan berpaling tanpa menoleh kebelakang. Aku tinggalkan lautan. Aku berjalan menjauh. Aku sudah meninggalkan kenanganku di Syiah Kuala, tempat makam ulama kharismatik pada abad kejayaan. Ulama yang secara tidak langsung menjadi penguasa kala Kerajaan Aceh diperintah oleh empat orang sultanah, sultan perempuan berturut-turut. Aku meninggalkan Banda Aceh tanah parah aulia, ulama terdahulu. Tanah warisan para endatu, orang orang terdahulu. Aku meninggalkan semua kenanganku dengan hati yang lapang.
            Langkah aku pulang adalah langkah pertama dalam kehidupan yang baru. Emak aku segera pulang.
            Aku segera pulang, aku berjalan menuju terminal keberangkatan. Langkahku lebih cepat, laju dan pasti.
“Bruuk ! ” Aku menabrak seorang perempuan. Wajah itu tak asing lagi.
“Mala ”
“Abang ..” Sambutnya, dari wajahnya Dia kebingungan.
“Ada apa Mala ?”
“Mala mau ke Pekanbaru bang. Tapi ada musibah tiba- tiba”
“Nenek sekarat.” Matanya berkaca- kaca.
“Innalillahi…” Ucapku,
“Ada yang bisa Abang bantu?”
“Boleh titip kiriman Mala ke Pekanbaru bang?” Jawab Mala sembari menyerahkan tas yang cukup besar.
“Apa ini Mala?”
“Kopi bang…”
“Kalau abang sampai di Pekanbaru nanti Mala hubungi”
“Ide bagus”
“Siapa nama abang ?”
“Jamil…” jawabku sembari menyerahlan kartu nama.
“Makasih bang” kemudian Mala pergi terburu-buru seperti sebelumnya. Mala akankah aku bertemua dia kembali, seperti kebetulan-kebetulan dalam pertemuan kami.




*** 
“Pak Anda diperiksa !!”
“Apa ?!” jawabku panik, kedua petugas bandara itu menggenggam lenganku, menarikku menjauh. Orang- orang berkerumun.
“Apa salahku?”
“ Aku harus segera pulang,” , ‘aku harus segera pulangg untuk emak’. Lanjutku dalam hati.
“Anda menyimpan narkotika”
“Apa ???”, jawabku. Kedua tanganku telah terkunci sebentuk logam yang melingkar, borgol. Lingkaran-lingkaran borgol itu mengingatkanku pada gambaran dalam secangkir kopi semalam, Tasseography, ramalan secangkir kopi.
SELESAI

























 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar